Kamis, 27 Mei 2010

Pribadi Mempesona (2)

Tatkala Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam merasa batas waktu hidupnya sudah dekat, beliau mengumpulkan para sahabat. Kemudian, beliau menyampaikan pidatonya: “Sahabat-sahabatku sekalian! hidupku mungkin sudah dekat, dan aku ingin menghadap Allah dalam keadaan suci bersih. Mungkin selama bergaul dengan Anda sekalian, ada yang pernah aku pinjam uangnya atau barangnya dan belum aku kembalikan atau belum aku bayar, sekarang ini juga aku minta ditagih. Mungkin ada di antara kalian yang pernah aku sakiti, sekarang ini juga aku minta dihukum qishos (hukuman balasan). Mungkin ada yang pernah aku singgung perasaannya, sekarang ini juga aku minta maaf.”

Para sahabat hening, karena merasa tidak mungkin hal itu akan terjadi. Tapi, tiba-tiba seorang sahabat mengangkat tangan dan melaporkan satu peristiwa yang pernah menimpa dirinya.

“Ya Rasulullah! Saya pernah terkena tongkat komando Rasulullah S.A.W. pada saat Perang Badar. Ketika Rasulullah S.A.W. mengayunkan tongkat komandonya, kudaku menerjang ke depan dan aku terkena tongkat Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Aku merasa sakit sekali, apakah hal ini ada qishos-nya!”

Nabi Muhammad S.A.W. menjawab, “Ya, ini ada qishos-nya jika kamu merasa sakit.” Rasul pun menyuruh Ali bin Abi Tholib mengambil tongkat komandonya yang disimpan di rumah Fatimah. Setelah Ali bin Abi Thalib tiba kembali membawa tongkat komando, Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam menyerahkan kepada sahabatnya untuk melaksanakan qishos.

Seluruh sahabat yang hadir di majelis itu hening, apa kira-kira yang akan terjadi jika Rasulullah dipukul dengan tongkat itu. Di tengah keheningan itu, Ali bin Abi Tholib tampil ke depan:
“Ya Rasulullah! Biar kami saja yang dipukul oleh orang ini. Abu Bakar dan Umar bin Khattab juga ikut maju. Tetapi, Rasulullah memerintahkan, Ali, Abu Bakar, dan Umar agar mundur, sambil berkata, “Saya yang berbuat, saya yang dihukum, demi keadilan”.

Situasi tambah hening. Tetapi, di tengah-tengah keheningan itu tiba-tiba sahabat yang siap jadi algojo itu berkata,: “Tapi di saat saya terkena tongkat komando, saya tidak pakai baju.” Mendengar itu langsung Rasulullah membuka bajunya di depan para sahabat.
Kulit Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam tampak bercahaya, tetapi ciri ketuaan sudah terlihat jelas.

Menyaksikan hal ini para sahabat tambah khawatir, Ali bin Abi Tholib tampil lagi ke depan memohon kepada Rasul agar dia saja yang di-qishos. Tapi, Rasulullah S.A.W. langsung memerintahkan agar Ali mundur, karena hukuman itu harus dijalankan sendiri demi keadilan.

Tiba-tiba sahabat ini menjatuhkan tongkatnya langsung merangkul dan mencium Rasulullah S.A.W. dan berkata: Ya Rasulullah! Saya tidak bermaksud melaksanakan qishos, saya hanya ingin melihat kulit Rasulullah S.A.W. menyentuh dan menciumnya. Sahabat-sahabat yang lain tersentak, gembira.

Rasulullah langsung berkata, “Siapa yang ingin melihat ahli surga, lihatlah orang ini.”
Kisah itu menunjukkan betapa Rasulullah sangat menjunjung nilai keadilan.
Beliau, sebagai kepala Negara sekaligus Nabi, sangat ikhlas menerima hukuman qishos dari rakyatnya sendiri".

Subhanallah..sungguh pribadi yang penuh dengan kemuliaan, akhlaqul karimah yang sangat mempesona... masih adakah kini? wallahu'alam bis showab...

Menemukan CintaNya...

Dia memaafkanku...
Disaat aku khilaf...
Dia menegurku,
Disaat aku melakukan kesalahan..
Dia memberiku energi,
Disaat aku merasa lemah..
Dia memberiku seberkas cahaya..
Disaat aku ketakutan dalam kesendirian..

Menemukan CintaNya
Adalah anugrah terindah yang kumiliki...
Menemukan CintaNya
Adalah hadiah yang tak ada duanya...
Menemukan CintaNya
Adalah cahaya yang tak henti menyinariku...
Menemukan CintaNya
Adalah obat penawar yang tak menyakiti...

Dia menemaniku disaat aku sendiri..
Dia menuntun jalanku agar aku selamat...
Dia menerimaku dalam keadaan apapun...
Dia tidak pernah melihat dari sisi fisik,harta,atau kemampuanku...
Dia membantuku disaat aku membutuhkan pertolongan...
Dia mengajariku disaat aku merasa tidak bisa...
Dia menghiburku, menghapus air mataku..
Dia selalu tau apa yang aku inginkan, meski aku tak mengatakan sepatah katapun....

Dia mengasihi aku tanpa mengharapkan apapun dariku...
Dia menyayangi aku dengan penuh meski kadang aku melupakanNya..
Dia merangkulku dalam-dalam meski disaat yang sama yang lain tertutup...
Dia mendengarkan keluh kesahku tanpa bosan..
Dia selalu mengerti aku...
Dia tak pernah melupakan aku..bahkan selalu hadir untukku...
Dia mampu membuatku tenang disaat aku mulai tegang...
Dia melukis senyum disaat aku menangis bahkan terluka...

Menemukan CintaNya..adalah hal yang membuatku slalu bahagia...