Tampilkan postingan dengan label shirohs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label shirohs. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Juni 2010

Kisah Abu Bakar (1)

Dari Ahmad dan At-Tabarani dari Abu Hurairah r.a. bahwa seorang lelaki telah mencerca Abu Bakar r.a. Ketika itu, Rasulullah SAW juga sedang duduk di sana. Baginda SAW tersenyum dan keheranan melihatkan keadaan lelaki tersebut. ketika lelaki itu mula bersikap kurang ajar terhadap dirinya, Abu Bakar r.a. pun membalas beberapa kata lelaki tersebut. Dengan yang demikian, Rasulullah SAW menjadi marah lalu bangun dan dibuntuti oleh Abu Bakar r.a.. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah SAW: "Lelaki itu bersikap kurang ajar terhadap diriku, oleh karna itu aku membalasnya. Ketika aku mulai membalasnya,engkau meninggalkan kami di tempat itu".

Rasulullah SAW bersabda: "Apabila kamu tidak membalas kata-katanya, terdapat malaikat yang membalasnya untukmu. Walau bagaimanapun apabila kita mulai membalas kata-kata kasarnya itu syetan mula mengambil tempat dan duduk di antara kamu. yang demikian itu aku tidak mau duduk bersama-sama dengan syaitan".

Kemudian Rasulullah SAW bersabda lagi: "Ya Abu Bakar ! Terdapat tiga perkara yang benar yaitu:
1)Apabila seorang hamba itu dizalimi dengan satu kezaliman, maka dia meninggalkan tempat itu semata-mata kerana Allah, Allah akan menguatkan dan membantunya.
2)Apabila seseorang itu membuka pintu kedermawannannya dan memberi hadiah, maka Allah akan menambahkan kekayaannya.
3)Apabila seseorang itu mula meminta-minta untuk menambahkan kekayaannya, maka Allah akan mengurangkan kekayaannya.

Subhanallah..betapa indah Islam ini mengajarkan kita banyak hal, yang tentu lebih baik...
Semoga kita semua bisa mengambil ibroh (pelajaran) dari shiroh ini..amin...

Rabu, 09 Juni 2010

Kisah Sha'b dan Auf

Mungkin alangkah indah, jika kita memiliki sahabat atau teman, yang benar-benar baik, menyayangi kita, dan selalu mengingatkan kita jika kita melakukan suatu kesalahan, teman yang baik tentu bukan teman yang ada manakala kita senang-seneng saja, melainkan teman yang selalu ada disaat kita melalui masa masa yang sulit ataupun masa dimana kebahagian ada dalam genggaman kita, sahabat yang baik bukanlah sahabat yang selalu membenarkan apa yang dianggap oleh kita benar, melainkan ia bisa mendukung kita manakala kita benar dan menunjukan hal yang benar manakala kita salah. Persahabat yang diikat oleh tali agama alloh tentu akan lebih kuat, dari persahabatan apapun. Tak jarang, sahabat yang benar-benar memiliki ruh yang bagus dan nilai solidaritas yang baik sering menjadi sahabat impian semua orang, dan sahabat yang baik itu biasanya memiliki nilai keitsaran yang lebih, banyak kisah shiroh sahabat pada saat dulu mengajarkan kita banyak hal, salah satunya kisah yang satu ini. Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmahnya...

Diceritakan ada dua orang lelaki dari kalangan sahabat Rasulullah s.w.a. berteman baik saling ziarah menziarahi antara satu dengan lainnya. Mereka adalah Sha'b bin Jastamah dan Auf bin Malik.

"Wahai saudaraku, siapa di antara kita yang pergi (meninggal dunia) terlebih dahulu, hendaknya saling kunjung mengunjungi." kata Sha'b kepada Auf di suatu hari.
"Betul begitu?" tanya Auf.
"Betul." jawab Sha'b.
Ditakdirkan Allah, Sha'b meninggal dunia terlebih dahulu. Pada suatu malam Auf bermimpi melihat Sha'b datang mengunjunginya.
"Engkau wahai saudaraku?" tanya Auf.
"Benar." jawab Sha'b.
"Bagaimana keadaan dirimu?"
"Aku mendapatkan keampunan setelah mendapat musibah."
Apabila Auf melihat pada leher Sha'b, dia melihat ada tanda hitam di situ.
"Apa gerangan tanda hitam di lehermu itu?" tanya Auf.
"Ini adalah akibat sepuluh dinar yang aku pinjam dari seseorang Yahudi, maka tolong jelaskan hutang tersebut. Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa tidak satupun kejadian yang terjadi di dalam keluargaku, semua terjadi pula setelah kematianku. Bahkan terhadap kucing yang matipun dipertanggungjawabkan juga. Ingatlah wahai saudaraku, bahwa anak perempuanku yang mati enam hari yang lalu, perlu engkau beri pelajaran yang baik dan pengertian baginya."

Perbincangan di antara kedua-dua lelaki yang bersahabat itu terhenti kerana Auf terjaga dari tidurnya. Dia menyadari bahwa semua yang dimimpikannya itu merupakan pelajaran dan peringatan baginya. Pada sebelah paginya dia segera pergi ke rumah keluarga Sha'b.

"Selamat datang wahai Auf. Kami sangat gembira dengan kedatanganmu." kata keluarga Sha'b. "Beginilah semestinya kita bersaudara. Mengapa anda datang setelah Sha'b tidak ada di dunia?"
Auf menerangkan maksud kedatangannya yaitu untuk memberitahukan semua mimpinya malam tadi. Keluarga Sha'b faham akan semuanya dan percaya bahwa mimpinya itu benar. Mereka pun mengumpulkan sepuluh dinar dari wang simpanan Sha'b sendiri lalu diberikan kepada Auf agar dibayarkan kepada si Yahudi.
Auf segera pergi ke rumah si Yahudi untuk menjelaskan hutang Sha'b.
"Adakah Sha'b mempunyai tanggungan sesuatu kepadamu?" tanya Auf.
"Rahmat Allah ke atas Sha'b Sahabat Rasulullah S.A.W. Benar, aku telah memberinya pinjaman sebanyak sepuluh dinar." jawab si Yahudi.
Setelah Auf menyerahkan sepuluh dinar, si Yahudi berkata: "Demi Allah dinar ini serupa benar dengan dinarku yang dipinjamnya dulu."
Dengan demikian, Auf telah melaksanakan amanah dan pesan saudara seagamanya yang telah meninggal dunia.

Subhanallah...meskipun kisah ini sudah sering kita baca atau kita dengar, namun pembelajaran dari kisah ini mungkin kadang kita lupakan, oleh sebab itu saudariku, persahabatan yang indah yang diikat oleh DinNya akan terasa lebih bermakna jika diaplikasikan dalam wujud real dalam kehidupan ini, rasanya akan lebih terasa ruhnya ketika kita mengatakan "uhibbuki fillah ukh.." dan sebagainya, diiringi dengan aplikasi amalan dalam hal yang lebih nyata. Subhanallah...

Kamis, 27 Mei 2010

Pribadi Mempesona (2)

Tatkala Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam merasa batas waktu hidupnya sudah dekat, beliau mengumpulkan para sahabat. Kemudian, beliau menyampaikan pidatonya: “Sahabat-sahabatku sekalian! hidupku mungkin sudah dekat, dan aku ingin menghadap Allah dalam keadaan suci bersih. Mungkin selama bergaul dengan Anda sekalian, ada yang pernah aku pinjam uangnya atau barangnya dan belum aku kembalikan atau belum aku bayar, sekarang ini juga aku minta ditagih. Mungkin ada di antara kalian yang pernah aku sakiti, sekarang ini juga aku minta dihukum qishos (hukuman balasan). Mungkin ada yang pernah aku singgung perasaannya, sekarang ini juga aku minta maaf.”

Para sahabat hening, karena merasa tidak mungkin hal itu akan terjadi. Tapi, tiba-tiba seorang sahabat mengangkat tangan dan melaporkan satu peristiwa yang pernah menimpa dirinya.

“Ya Rasulullah! Saya pernah terkena tongkat komando Rasulullah S.A.W. pada saat Perang Badar. Ketika Rasulullah S.A.W. mengayunkan tongkat komandonya, kudaku menerjang ke depan dan aku terkena tongkat Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Aku merasa sakit sekali, apakah hal ini ada qishos-nya!”

Nabi Muhammad S.A.W. menjawab, “Ya, ini ada qishos-nya jika kamu merasa sakit.” Rasul pun menyuruh Ali bin Abi Tholib mengambil tongkat komandonya yang disimpan di rumah Fatimah. Setelah Ali bin Abi Thalib tiba kembali membawa tongkat komando, Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam menyerahkan kepada sahabatnya untuk melaksanakan qishos.

Seluruh sahabat yang hadir di majelis itu hening, apa kira-kira yang akan terjadi jika Rasulullah dipukul dengan tongkat itu. Di tengah keheningan itu, Ali bin Abi Tholib tampil ke depan:
“Ya Rasulullah! Biar kami saja yang dipukul oleh orang ini. Abu Bakar dan Umar bin Khattab juga ikut maju. Tetapi, Rasulullah memerintahkan, Ali, Abu Bakar, dan Umar agar mundur, sambil berkata, “Saya yang berbuat, saya yang dihukum, demi keadilan”.

Situasi tambah hening. Tetapi, di tengah-tengah keheningan itu tiba-tiba sahabat yang siap jadi algojo itu berkata,: “Tapi di saat saya terkena tongkat komando, saya tidak pakai baju.” Mendengar itu langsung Rasulullah membuka bajunya di depan para sahabat.
Kulit Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam tampak bercahaya, tetapi ciri ketuaan sudah terlihat jelas.

Menyaksikan hal ini para sahabat tambah khawatir, Ali bin Abi Tholib tampil lagi ke depan memohon kepada Rasul agar dia saja yang di-qishos. Tapi, Rasulullah S.A.W. langsung memerintahkan agar Ali mundur, karena hukuman itu harus dijalankan sendiri demi keadilan.

Tiba-tiba sahabat ini menjatuhkan tongkatnya langsung merangkul dan mencium Rasulullah S.A.W. dan berkata: Ya Rasulullah! Saya tidak bermaksud melaksanakan qishos, saya hanya ingin melihat kulit Rasulullah S.A.W. menyentuh dan menciumnya. Sahabat-sahabat yang lain tersentak, gembira.

Rasulullah langsung berkata, “Siapa yang ingin melihat ahli surga, lihatlah orang ini.”
Kisah itu menunjukkan betapa Rasulullah sangat menjunjung nilai keadilan.
Beliau, sebagai kepala Negara sekaligus Nabi, sangat ikhlas menerima hukuman qishos dari rakyatnya sendiri".

Subhanallah..sungguh pribadi yang penuh dengan kemuliaan, akhlaqul karimah yang sangat mempesona... masih adakah kini? wallahu'alam bis showab...

Kamis, 20 Mei 2010

Pribadi Mempesona

Pada masa Rasulullah memimpin masyarakat Madinah, selaku orang besar beliau justru paling sangat sederhana, walaupun warga Madinah hidup berkecukupan. Kalau ada pakaian yang robek, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memeras susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual. Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyinsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.

Sayidatina 'Aisyah menceritakan "Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai shalat." Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina 'Aisyah belum ke pasar.

Maka Nabi bertanya, "Belum ada sarapan ya Khumaira?" (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina 'Aisyah yang berarti 'Wahai yang kemerah-merahan') 'Aisyah menjawab dengan rada serba salah, "Belum ada apa-apa wahai Rasulullah." Rasulullah lantas berkata, "Jika begitu aku puasa saja hari ini." Tanpa sedikit tergambar rasa kesal diwajahnya.
Sebaliknya baginda sangat marah tatkala melihat seorang suami memukul isterinya. Rasulullah menegur, "Mengapa engkau memukul isterimu?" Lantas dijawab dengan agak gementar, "Isteriku sangat keras kepala. Sudah diberi nasehat dia tetap bandel, jadi aku pukul dia.","Aku tidak bertanya alasanmu," sahut Nabi s.a.w. "Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu bagi anak-anakmu ?" Pernah baginda bersabda, "sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya."

Subhanalloh, Rosulullah Saw adalah sosok yang mampu menjalani hidupnya dengan prihatin, sabar dan tawadhunya yang luar biasa dalam menjadi kepala keluarga, hingga tidak menampakkan kedudukannya sebagai pemimpin umat.

Pada suatu hari, ketika Rasulullah mengimami Shalat Isya berjamaah, para sahabat yang menjadi makmum dibuat cemas oleh keadaan nabi yang nampaknya sedang sakit. Buktinya, setiap kali nabi menggerakkan tubuh untuk rukuk, sujud dan sebagainya, selalu terdengar suara keletak-keletik, seakan-akan tulang-tulang Nabi longgar semuanya.
Maka, sesudah salam, Umar bin Khatab bertanya,"Ya, Rasullullah, apakah engkau sakit?".
"Tidak, Umar, aku sehat," jawab Nabi.
"Tapi mengapa tiap kali engkau menggerakkan badan dalam shalat, kami mendengar bunnyi tulang-tulangmu yang berkeretakan?".
Mula-mula, Nabi tidak ingin memberi tau kepada sahabat. Namun, karena para sahabat tampaknya sangat was-was memperhatikan keadaannya, Nabi terpaksa membuka pakaiannya.
Tampak oleh para sahabat, Nabi mengikat perutnya yang kempis dengan selembar kain yang didalamnya diiisi batu-batu kerikil untuk mengganjal perut untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kerikil itulah yang berbunyi keletak-keletik sepanjang Nabi memimpin shalat berjamaah. Serta merta Umar pun memekik pedih, "Ya, Rasulullah, apakah sudah sehina itu anggapanmu kepada kami? Apakah engkau mengira seandainya engkau mengatakan lapar, kami tidak bersedia memberimu makan yang paling lezat ?
Bukankah kami semuanya hidup dalam kemakmuran ?".
Nabi tersenyum ramah seraya menyahut, "Tidak, Umar tidak. Aku tahu, kalian, para sahabatku, adalah orang-orang yang setia kepadaku. Apalagi sekedar makanan, harta ataupun nyawa akan kalian serahkan untukku sebagai rasa cintamu terhadapku, tetapi dimana akan kuletakkan mukaku dihadapan pengadilan Allah kelak di Hari Pembalasan, apabila aku selaku pemimpin justru membikin berat dan menjadi beban orang-orang yang aku pimpin?".
Para sahabat pun sadar akan peringatan yang terkandung dalam ucapan Nabi tersebut, sesuai dengan tindakannya yang senantiasa lebih mementingkan kesejahteraan umat daripada dirinya sendiri.

Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor. Baginda hanya diam dan bersabar ketika kain rida'nya ditarik dengan kasar oleh seorang Arab Baduwi hingga berbekas merah di lehernya. Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencing si Baduwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

Apakah rahasia yang menjadikan jiwa dan akhlak baginda begitu indah dan mempesona? Apakah yang menjadi rahasia kehalusan akhlaknya hingga sangat memikat dan menjadikan mereka begitu tinggi kecintaan padanya.
Apakah kunci kehebatan peribadi baginda yang bukan saja sangat bahagia kehidupannya walaupun di dalam kesusahan dan penderitaan, bahkan mampu pula membahagiakan orang lain tatkala di dalam derita.
Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH S.W.T dan rasa kehambaan yang sudah menyatu dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ketuanan.
Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam kesendirian. Subhanallah..sungguh luar biasa...

Pernah ada sebuah kisah, ada seorang tabib yang dikirim oleh penguasa Mesir, Muqauqis, sebagai tanda persahabatan, selama dua tahun di Madinah sama sekali menganggur.
Menandakan betapa kesehatan penduduk Madinah betul-betul berada pada tingkatan yang tinggi. Sampai tabib itu bosan dan bertanya kepada Nabi, "Apakah masyarakat Madinah takut kepada tabib?" Nabi menjawab, "Tidak. Terhadap musuh saja tidak takut, apalagi kepada tabib". "Tapi mengapa selama dua tahun tinggal di Madinah, tidak ada seorang pun yang pernah berobat kepada saya?" "Karena penduduk Madinah tidak ada yang sakit," jawab Nabi Tabib itu kurang percaya, "Masak tidak ada seorang pun yang mengidap penyakit?".
"Silakan periksa ke segenap penjuru Madinah untuk membuktikan ucapanku,"ujar Nabi.
Maka tabib Mesir itu pun melakukan perjalanan kelililng Madinah guna mencari tahu apakah benar ucapan Nabi tersebut. Ternyata memang di seluruh Madinah ia tidak menjumpai orang yang sakit-sakitan. Akhirnya, ia berubah menjadi kagum dan bertanya kepada Nabi, "Bagaimana resepnya sampai orang-orang Madinah sehat-sehat semuanya ?"
Rasulullah menjawab, "Kami adalah suatu kaum yang tidak akan makan kalau belum lapar. Jika kami makan, tidaklah sampai terlalu kenyang. Itulah resep untuk hidup sehat, yakni makan yang halal dan baik, dan makanlah untuk takwa, tidak sekedar memuaskan hawa nafsu".

Ketika pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih lagi berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah hingga pernah baginda terjatuh lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiklnya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. ketika ditanya oleh Sayidatina 'Aisyah, "Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin masuk Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini ?"
Jawab baginda dengan lunak, "Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur."

Subhanalloh pribadi yang tak pernah ada duanya, kini masih adakah pribadi yang elok nan mempesona seperti baginda Rosulullah Saw? :)

Wallahu'alam bis showab

Rabu, 10 Maret 2010

Lanjutan Al Aqsha..

Tembok BURAQ bukan tembok ratapan

Tembok yang berada di lingkungan Masjid Al Aqsha diklaim Yahudi sebagai tembok ratapan dan bagian dari kuil Sulaiman. Disana yahudi Israel sering kali meratap dan menangis sebagai bagian dari prosesi ibadahnya, padahal sesungguhnya itu adalah tempat Nabi Muhammad Saw menambatkan buraq sebelum beliau naik ke Sidratul Muntaha pada peristiwa Isra Mi'raj. Dinding itu dinamakan dinding Buraq, jelas Dr.Nashr Farid Wasil, mantan Mufti Mesir. Jadi klaim orang yahudi atas dinding tersebut sebagai tembok ratapan tidaklah berdasar.

Hal senada dikatakan oleh Syaikh Yusuf Al Qardhawi bahwa klaim orang yahudi terhadap tembok buraq itu tidak sama sekali ada sejarahnya. Yahudi pernah menetap di Naples (wilayah sekitar Palestina) selama 289 tahun atau paling tidak sekitar 434 tahun. Inilah waktu terlama orang yahudi menetap diwilayah Palestina. Sedangkan bangsa Arab telah ada sejak 30 abad sebelum kelahiran Nabi Isa As. Sebelum Islam hadir, bahkan tak ada jejak Yahudi sama sekali di Palestina.

Nabi Saw pernah bersabda tentang Al Aqsha, dari Abu Dzar Al Ghifari, "suatu ketika saya pernah bertanya kepada Nabi Saw, mesjid apa yang pertama kali dibangun dimuka bumi? Jawab Rosulullah; Masjidil Haram, Kemudian saya bertanya lagi, Lalu masjid mana lagi?, Rosulullah saw menjawab, Masjidil Aqsha . Lalu saya bertanya berapa lamakah jarak pembangunan dua masjid tersebut? Rasulullah Saw menjawab, Empat puluh tahun" (Hr.Bukhari)

Dr.Mahmoud Saratawi, Dekan Fakultas Syariah Universitas Jordan seperti dikutip Islamonline, kembali menegaskan bahwa masjid Al Aqsha adalah anggung jawab semua umat Muslim, sebab mesjid ini pernah menjadi kiblat ummat islam yang pertama, menjadi tanah wakaf ummat muslim seluruh dunia dan juga pernah disebutkan Allah di dalam kitab suci Al Quran, ummat muslim harus menjadikan Al Aqsha sebagai pengikat kesatuan antar mereka. "Tak ragu lagi jika ada muslim yang tidak memedulikan masjid Al Aqsha kelak di hari akhirat akan ditanya Allah mengapa dia berbuat demikian," Kata Mahmoud.

Menurutnya, setiap muslim harus mempertahankan Al Aqsha dengan berbagai cara. Jika dia seorang ibu maka hendaklah dia menceritakan tentang Al Aqsha dan sejarah serta kedudukannya yang luar biasa bagi ummat Islam. Jika ia guru, hendaknya mengajarkan tentang Al Aqsha dan menanamkan kecintaan terhadap Al Aqsha di hati murid-muridnya. "Setiap muslim wajib mengutuk setiap kegitan yang bertujuan untuk merusak Al Aqsha", ajak Mahmoud.

sumber : ummi

Senin, 08 Maret 2010

Al Aqsa !

Membela Masjid Al Aqsa adalah Tanggung Jawab Muslim di Seluruh Dunia, kurang lebih itulah tema yang saya baca dari sebuah majalah wanita islami "ummi" yang menceritakan shirah masjid Al Aqsa, jelas saya tertegun, berbagai perasaan menyatu disana, bangga, haru, juga sedih, ya,, mesjid Al Aqsa yang kita tau sebagai kiblat pertama ummat Islam, tempat yang penuh sejarah dan berkah saat di isra mi'rajkannya Rosulullah SAW, namun kini kita hanya biasa diam, ketika Al Aqsa tercinta hampir terenggut oleh yahudi la'natullah, ya..paling tidak selemah-lemahnya imanlah yang bisa kita persembahkan, doa yang tidak pernah putus, doa disepertiga malam yang sentiasa kita panjatkan kepada yang Maha Kudus, moga kemuliaan tetap bersama ummat muslim disana juga untuk mereka yang senantiasa menjaga dan membela Al Aqsa...

Mesjid Al Aqsa, yang berarti mesjid terjauh merupakan salah satu bagian dari kompleks bangunan yang menkadi bagian haram al sharif termasuk juga dome of the rock di kota tua Yerusalem, nach dilokasi yang sama pula orang-orang yahudi mempercayai bahwa adanya tempat dibangunnya kuil Solomon yang dibangun Nabi Sulaiman.

Al aqsa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ummat muslim, karna inilah kiblat yang pertama, sebelum akhirnya di pindahkan Alloh Swt ke mesjidil Haram di Mekkah, di Al Aqsa pula Rosulullah Saw melaksanakan shalat sunnah 2 rakaat sebelum di berangkatkan ke Shidratul Muntaha pada saat Isra Miraj, oleh karnanya Al Aqsa adalah bagian terpenting bagi ummat muslim setelah Mekkah dan Madinah.

Mesjid Al Aqsa diperbaharui dan dibangun pada masa khalifah Ummar bin Khatab,kemudian dibangun lagi pada masa Khalifah Abdul Malik dan anaknya Al Walid dari Dinasti Umayyah tahun 705M hingga terbentuk bangunan yang megah. Al Aqsha diruntuhkan dan dibangun kembali oleh khalifah Al Mansur dari bani Abassiyah dan penerusnya Al Mahdi tahun 780 M. Bencana gempa tahun 1033 meruntuhkan Al Aqsha, dan 2 tahun kemudian dibangun kembali pada masa Khalifah Ali Az Zahir dari Dinasti Fatimiyah hingga Al Aqsha terlihat sampai saat ini. Saat itu banyak ditambahkan variasi seperti pada kubah,bagian muka gedung, mimbar, menara dan interior dalam masjid. Saat Yerusalem dikuasai oleh kaum kristen, mesjid ini sempat diubah menjadi sebuah gereja dan istana oleh penguasa eropa. setelah Yerusalem dibebaskan oleh Salahudin Al Ayubi, mesjid inipun kembali menjadi milik ummat Islam. Tatkala zionis yahudi membakar masjid suci Al Aqsha ini pada tahun 1969, berdirilah Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada tahun 1971. Tanggal 15 Januari 1988 meletuslah inthifada yang pertama, serdadu israel menembakkan peluru karet dan gas air mata hingga melukai 40 jamaah yang tengah beribadah saat itu, pada bulan oktober 1990, 22 orang warga Palestina terbunuh dan 100 lainnya luka oleh serdadu perbatasan israel saat memprotes pendirian kuil ratapan bagi yahudi disekitar komplek Al Aqsha. Setelah Palestina ada dalam penguasaan Yahudi Israel tahun 1967 eksistensi masjid Al Aqsha memang mulai dirongrong, selain mendirikan tempat ibadah bagi Yahudi di kompleks yang sama, juga melarang muslim memakmurkan mesjid Al Aqsha, bahakan parahnya mereka juga menggali terowongan dibawah pondasi masjid Al Aqsha dengan maksud ingin merobohkan tempat yang suci ini...

Lalu,,,sudahkah kita berbuat sebisa yang kita lakukan untuk menjaga melindungi Al Aqsha, juga sejauh mana kita mendoakan saudara-saudara kita yang terus berjuang disana hingga akhir hayatnya ? ? ?

Wallahu'alam bis shawab...


Senin, 11 Januari 2010

WAPER...

Nach saat ini saya ingin bercerita sebelum menceritakan waper sesungguhnya, kata waper sangat bersahabat dengan kehidupan saya karna katanya, waper ini menjadi makanan yang sering bapak saya kirimkan ke ibu saya dulu,hehe.. tapi waper disini bukan waper tango, atau waper selamat dan sejenisnya, kan itu mah wafer ya,,he,, waper disini adalah sebuah singkatan dari wanita perkasa.. wah.. subhanalloh ya, ternyata seorang akhwat/wanita itu bisa menjadi sosok yang perkasa ditengah-tengah sifatnya yang penuh kelembutan dan kasih sayang, shiroh shohabiyyah yang satu ini mengajarkan kita banyak hal, terutama dalam hal keberanian dalam membela kebeneran,, sipakah dia? tentunya bukan saya,he.. tapi seorang wanita perkasa yang menjadi syahidah di ada perang uhud yakni sayyidatina NASHIBAH... (yuks simak shirohnya,,)

Seminggu setelah ummat islam di madinah merayakan Idul Fitri ke-3 H, pecahlah perang uhud. pertempuran ummat islam melawan orang kafir ini, terjadi pada hari sabtu tanggal 6 syawal, tahun 3H, atau tanggal 21 Maret 625M.

Ketika itu nashibah, istri dari said, sedang sibuk di dapur dan tiba-tiba mendengar suara gemuruh, orang-orang quraisy mulai menyerang, dan nashibah berbegas memanggil suaminya untuk segera berjihad di medan perang, saat itu berangkatlah said sang suami, diiringi dengan lambaian tangan penuh cinta dari sang istri,yakni nashibah.

tak lama kemudian, datanglah seorang prajurit ke rumah nashibah, mengabarkan bahwa suaminya telah gugur dan syahid, namun nashibah tak menangis, ia berkata "allohu akbar..suamiku telah menang perang, segala puji bagiMu ya alloh", ia pun menangis, tapi tangisan kebahagiaan dan kebanggaan...

Setelah itu, nashibah menyampaikan kabar ini kepada putranya yanb rberusaia 15tahun, yakni Ammar, dan ammarpun mengangguk untuk mengikuti jejak ayahandanya, yakni berjihad di medan perang, "anakku, nach sekarang juga pergilah kau ke medan perang, bawalah tombak warisan ini", ammarpun pergi dengan gembiranya, ia memacu kudanya ke medan perang dengan doa restu ibunya, bahkan ketika rosulullah saw melihatnya dimedan perang, ammar dipeluknya, dan dilepasnya terjun dimedan pertempuran,hingga akhirnya ammarpun gugur dan menjadi syuhada, tetapi nashibah tidak menampakkan kesedihannya, malah ibu yang berhati baja itu, memanggil anaknya yang paling kecil Saad agar ikut berjihad, hingga anak bungsunya itu gugur, dan nashibahpun terguncang,namun itu hanya sejenak. kemudain nashibahpun iktu memacu kudanya dan bertempur dengan kaum laki-laki.

Melihat hal ini, seorang prajurit mencegahnya, dan agar ia berjuang di garis belakang sebagai "juru rawat", dan akhirnya ia pun turun dan menolong prajurit-prajurit islam yang terluka,namun ternyata inipun tak berlangsung lama...

Ketika ia sedang sibuk menolong seorang prajurit yang luka, tiba-tiba kepala nashibah terciprat darah seorang prajurit yang islam yang terbunuh, nashibah melihat prajurit itu mengerang kesakitan hingga ia terjatuh dari kudanya dan gugur dimedan ini,lalu tanpa berpikir panjang lagi nashibah bangkit dan mengambil pedang prajurit yang roboh itu,kemudian dipacu kudanya menerjang barisan musuh. dengan semangat berkobar-kobar, mengamuklah wanita perkasa ini bak singa betina yang kelaparan. tetapi musuh lebih gesit dan akhirnya NASHIBAH pun gugur di medan perang Uhud sebagai syahidah.. Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un...

Semoga kita semua bisa memetik, ummahat yang satu ini ya,, Nashibah Ra...

Jumat, 13 November 2009

Sayyidatina Saudah Binti Zam'ah..

Tadi pagi tiba-tiba sebuah sms muncul, bahwa saya dapat jatah kultum hari ini, aduh gubrak dech, belum sempat baca-baca, belum sempat nyari sumber bukunya apa, tapi bismillah aja dech, kultumnya tentang shiroh shohabiyyah, tadinya mau sahabat, atau putri Rosulullah SAW, secara githu dirumah ada buku "Fathimah beloved daughter",hibahan seorang sahabat perjuangan,he.. semoga limpahan pahala mengalir padanya,amin..tapi sebelum kesahabat or putrinya, mendingan istrinya dulu, Siti Khodijah perempuan Suci "At Thahirah", yang memiliki posisi yang amat penting di hati dan perjuangan Nabi, tidak akan ada habisnya jika membahas Ummahatul Mukminin yang satu ini. Begitu banyak taudalan yang patut kita teladani, berjuta kisah dech, Alhamdulillah sudah pernah dibahas, meski belum semuanya,kayaknya mah,jadi meureun, giliran saya menyampaikan istri Nabi yang lain, yakni Ummahatul Mukminin "SAUDAH BINTI ZAM'AH"

Nama : Saudah Binti Zam'ah
Nama lengkap : Saudah binti Zam'ah bin Qais bin Abdu Syam bin 'Abdud (dari suku Quraisy Al Amiriyah)
Nama Ibunya : Asy Syumusy binti Qais bin Zaid bin Amr (dari bani Najjar)
Nama Suami sebelum Rosul : Sakran bin Amr (saudara Suhail bin Amr Al Amiri)
Ciri-ciri : Cerdas dan berpostur tinggi besar
Kuniah : Muhajirah Janda Muhajir

Kisahnya : (ane singkat aja ya, afwan :) )

Dialah yang berhijrah bersama suaminya
Meninggalkan rumah dan harta mereka
Berlayar menyeberangi lautan,mereka rela..
Demi menyelamatkan Dinul Islam tercinta..
Siksaan dan tekanan mereka rasakan
Sudah terasa begitu hebat,karna keukeuh dalam pendirian;
Yakni penolakan terhadap kesesatan dan kemusyrikan...
Begitu hilang penderitaan
Di Negeri Habsy yang penuh pengasingan
Kini..harus ditinggalkan suami tersayang..
Iba seorang Rosul tuk meringankan beban
Dari janda tua yang penuh cobaan..
Hingga akhirnya menjadilah Ummahatul Mukminin..
Saudariku,,
Sebelumnya tak ada yang berani
Menyampaikan saran kepada Nabi
Tentang hal yang satu ini
Yakni agar nabi menikah kembali..
Datanglah Kaulah binti Hakim
Menanyakan dengan penuh hati-hati..
Hingga ada 2 hal yang pasti..
Dari perawan yakni Aisyah Binti Abu Bakar
Anak dari seorang sahabat Rosulullah yang paling dikasihi (Abu Bakar)
Dari janda yakni Saudah Binti Zam'ah
Seorang wanita yang beriman dan ikut berjuang bersama Nabi..
Akhirnya,,,
Menikahlah Nabi..
Dihari yang sama dengan wanita yang istimewa
Aisyah dan Saudah..
Setelah 3 tahun barulah Aisyah hidup bersama..
Banyak penduduk Mekkah merasa heran!!
Khadijah kini; Saudah yang menggantikan???
Padahal tidak demikian..
Tak siapapun mampu menggantikan
Kedudukan Khadijah dihati Nabi..
Nabi menikahi Saudah..
Karna kebaikan dan sifat kasih sayangnya..
Tapi Subhanalloh..
Saudah mampu menyesuaikan keadaan..
Mampu mengasuh dan merawat putri-putri Nabi..
Kelembutan dan tutur katanya,,
Mampu membuat Nabi terhibur,,
Nabipun enggan menceraikannya,
Karna Saudah amat tertekan dan bersedih..
"Biarkanlah aku tetap sebagai istri engkau..
Demi Alloh aku tidak akan banyak menuntut,
sebagaimana istri-istri engakau,,
Namun aku ingin dibangkitkan..
Sebagai istri engkau dihari kiamat kelak.."
Sungguh pesona kata-katanya..
Ia abdikan dirinya..
Untuk keridhaan suaminya..
Bahkan ia berikan jatah gilirannya,,
Kepada Aisyah..
Hingga turunlah ayat 128 dalam surat keempat..
Ia tinggal bersama suaminya sekaligus Nabinya,
Dengan penuh ketenangan,keridhaan,dan kesyukuran..
Ialah salah satu ibunda kaum mukmin
Dan salah satu istri Rosulullah di Syurga..
Ia wafat pada masa khalifah Ummar bin Khatab..
Dialah wanita yang patut ditiru,,
Perangainya yang penuh kelembutan dan kasihsayang..

Jujur.. singkat cerita shiroh ini saya buat terinspirasi dari sebuah buku yang kaya akan sastra,dalam menyingkap makna, yang sering saya baca, yakni Pesona 10 Sahabat, karya Ust Fahri..atasan saya sekaligus guru saya ditempat saya bekerja..saya pun ingin menulis seperti beliau..mencoba menuliskan sebuah Shiroh dalam bentuk pupuisian..hem..saya memang belum begitu pandai namun keinginan mencoba selalu ada..hem.. By the way, foto diujung sana nampak kurang cocok ya..Shiroh Shohabiyyah, tentang Ummahatul Mukminin yang tidak bisa digambarkan kok ada fotonya,,jujur sebenarnya ada pesan dakwah disana, sengaja saya tampilkan seorang ibu yang sedang merawatnya anaknya, yang terkena luka di Negeri perjuangan Palestina..itulah ceritanya,,saya..jujur belum bisa setegar itu,,Subhanalloh khan ibu-ibu Palestina itu..so, Save Palestine!!!

Sumber :
Judul Asli : Nisaaun Haular Rosul
Penulis : Mahmud Mahdi Al Istambuli & Musthafa Abu Nashr Asy Syilby
Judul terjemahan : Wanita Teladan
(Istri-istri, Putri-putri, Sahabat Wanita Utama Rosulullah)
Penerjemah : Ahmad Sarbaini S.Ag.Al Hafidz, Kosim S.Ag, Mukhlisin Ibnu Abdurrohim

Minggu, 25 Oktober 2009

Pelajaran Penting dari Marahnya Nabi (1)

Judul Asli : Mawaaqif Ghadiba Fiihan Nabiyyu
Penulis : Khumais as-Sa'id
Penerbit : Darun Nasyr al-A'raby
Pelajaran Penting dari Marahnya Nabi Saw
Penerjemah : Beni Sarbeni
Penerbit : Pustaka Ibnu Katsir
Harga Rp 36.000

Marahnya seseorang dapat mengakibatkan kezhaliman terhadap isterinya, anak-anaknya, keluarga terdekat dan bahkan kedua orang tuanya yang telah mendidiknya dengan susah payah dan telah merawatnya sejak kecil.

Dalam buku ini dikupas beberapa kondisi Nabi Saw dan bagaimana tindakan beliau ketika marah, manfaat apa yang dapat diambil, khususnya dari tindakan-tindakan tersebut yang mengisyaratkan pada perkara-perkara fiqih yang tidak dapat dilihat oleh sebagian besar pembaca. Penulis telah mengutarakan dan menjelaskan, agar hukum masalah marah ini menjadi terang dan jelas, juga menjadi penerang bagi seseorang di kegelapan jalan serta menjadi sarana pendidikan yang ia dapat belajar padanya bagaimana bertindak dan mengatur urusan-urusannya ketika dihadapkan kepada sesuatu yang dapat membangkitkan amarahnya.

Tadinya sich cuma mau posting secara singkat aja, tentang buku ini, namun setelah beberapa pertimbangan, mending di posting secara berkelanjutan, karna penting sekali bagi saya pribadi, tentang materi tentang marah dan tektekbengek tentang marah itu sendiri, Jujur dunia yang saya hadapi sekarang ini kurang asem..eh maksudnya kurang adem, terasa panas rasanya teh..maklum gak ada ac,tapi ag..hem..angin geuleubug..he..tapi inilah hidup yang saya jalani, btw ko jadi curhat,aduh afwan, ceritanya kan mau menceritakan kembali tentang buku yang saya baca,ko jadi ngacapruk begini, afwan ziddan,kenapa saya posting secara kontinu tentang marah ini,karna sesungguhnya, khawatir suatu saat saya lupa dan saya berharap semoga postingan ini selalu mengingatkan saya,terlebih saya bisa mengontrol diri dan hati saya ketika marah itu datang...

"Sesungguhnya telah ada pada diri Rosulullah, ciri tauladan yang baik" (Qs.Al Ahzab :21), Bahkan ketika beliau marahpun,marahnya semata-mat karna Alloh SWT, nach..ko bisa?? Sebelum mengetahui hikmah dari marahnya Rosulullah SAW, ada beberapa hal yang musti kita ketahui terkait marah itu sendiri,yakni hal-hal berikut ini:

Apa itu MARAH..(Ghodlob)

Marah secara bahasa mempunyai beberapa makna; tidak meridhoi sesuatu, menggigit sesuatu, kemuraman(muka), membengkak disekitar sesuatu, buruk dalam bergaul dan berakhlak dengannya, perisai dari kulit unta yang dipakai dalam peperangan. Sedangkan marah secara istilah, yakni perubahan dalam diru atau emosi yang dibawa oleh kekuatan dan rasa dendam demi menghilangkan gemuruh dalam dada yang paling besar dari marah adalah alghoid, hingga mereka berkata dalam definisinya: "kemarahan yang teramat sangat".

Gimana Tanda-tanda MARAH..
Tanda zhahirnya seperti ini:
1. Mengejangnya urat dan otot disertai memerahnya wajah dan kedua mata
2. Wajah yang cemberut (muram) dan dahi yang mengerut
3. Permusuhan dengan orang lain melalui: lisan,tangan,kaki atau yang lainnya
4. Membalas musuh dengan balasan yang setimpal dengannya atau lebih parah darinya, tanpa memikirkan akibat-akibatnya yang fatal dan seterusnya...

Hakikat Marah:
1. Marah yang terpuji (geuning ada ya!!); marah yang bila dilakukan dalam rangka membela diri,kehormatan,harta, agama,hak hak umum atau menolong orang yang didzalimi.
2. Marah yang tercela; marah sebagai tindakan balas dendam demi dirinya sendiri,,,

Nach sampai disini dulu ya.. Insyaalloh kapan-kapan Nays posting lagi sambungannya,,Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam orang-orang yang mampu menahan/menjaga marahnya..amin...

sekali lagi...(Laa Taghdlob Walakal JANNAH)

bersambung ya.....

Jumat, 16 Oktober 2009

Kisah Pemuda Buruk Rupa...

Tadi pagi ada hal yang membuat jantungku merasa deg-degan lebih kencang, karna hampir saja nincak kodok,,hi..takut,, bayangan-bayangan kisah tidak sedap nampil dimemoriku, ya..kisah candaan tentang nginjak kodok, tapi diluar semua itu, meneketehe ah, karna apalah arti dari sebuah nama,rupa,kekayaan, jabatan dkk, semua adalah fatamorgana, bayang-bayang semu yang menyilaukan mata yang akan fana, karna sesungguh yang menentukan kemuliaan seseorang disisi Alloh SWT hanyalah sebuah ketaqwaan, nach sebelumnya afwan karna lupa lagi ini kisah dari buku yang mana, yang jelas shiroh githu namun lupa karna dah beberapa lama, jadi gak di tampilkan sumbernya, namun teringat kembali kisah ini, gara-gara nginjak kodok tadi, ya..kisah pemuda buruk rupa...

Kisah ini terjadi pada zaman Nabi Daud. Nabi Daud adalah seorang nabi yang sangat menyayangi kaum muda, karena ia beranggapan bahwa pemudalah yang mampu merubah keadaan menjadi lebih baik. Nabi Daud mempunyai sebuah majelis, dan disanalah Ia mengajarkan risalah dan tuntunan wahyu yang diturunkan Allah kepadanya. Di majelis tersebut, sering datang seorang pemuda yang berwajah tak sedap dipandang mata.

Pokoknya dilihat darimana saja, wajahnya tetap saja tak menyejukkan mata. Pemuda ini seringkali duduk berjam-jam. Tak jarang ketika semua orang telah bubarpun ia masih merenung seoang diri. Tapi ada yang aneh dengan pemuda tersebut. Meski sering datang dan duduk lama, ia tak pernah mengucapkan sepatah kata pun, baik untuk bertanya maupun untuk mengemukakan pendapatnya.

Suatu hari, datang ke majelis tersebut malaikat Izrail sang pencabut nyawa. Ia memandang pemuda itu dengan tatapan mata yang tajam. Nabi Daud merasakan ada yang tak beres, kemudian nabi Daud bertanya. "Aku diutus Allah untuk mencabut nyawanya minggu depan," kata Izrail sambil menunjuk pada sang pemuda. Kontan, setelah mendengar penjelasan tersebut nabi Daud pun jatuh iba pada sang pemuda. Kemudian dengan penuh kasih ia mendekati pemuda tersebut dan bertanya. "Hai pemuda, sudahkah kau menikah?" tanya nabi Daud pada sang pemuda. "Belum," jawabnya jujur.

Setelah mendengar pengakuan sang pemuda maka bertambah iba lah nabi Daud pada pemuda tersebut. Ditulisnya surat untuk seorang pemuka kaum Bani Israil dengan maksud meminang salah satu putrinya untuk dinikahkan dengan pemuda tersebut. Nabi Daud meminta sang pemuda untuk mengantarkan suratnya, dan alhamdulillah, pinangan tersebut langsung diterima. Betapa gembiranya hati sang pemuda kala itu.

Maka pernikahan pun dilangsungkan dengan semua biaya ditanggung nabi Daud. Setelah berbulan madu, sang pemuda yang kini telah beristri itu datang lagi ke majelis nabi Daud. "Hai pemuda, bagaimana bulan madumu selama seminggu," sapa nabi Daud ketika melihat pemuda itu di dalam majelis. "Aku belum pernah merasakan nikmat Allah yang sebaik itu," jawab sang pemuda. Nabi Daud teringat, bahwa hari itu telah dijanjikan malaikat Izrail untuk mencabut nyawa sang pemuda. Namun anehnya, malaikat Izrail tak nampak. nabi daud pun meminta kepada sang pemuda untuk datang ke majelisnya minggu depan. Tapi kejadian serupa terulang, Izrail tak menampakkan diri bahkan sampai delapan minggu.

Pada suatu saat datanglah malaikat Izrail ke majelis nabi Daud. Pada saat yang bersamaan pemuda itupun hadir pula. Nabi Daud pun langsung menegur malaikat Izrail. "Mengapa engkau tak menepati janjimu padahal beberapa minggu telah berlalu ?" tanya nabi Daud as. "Wahai Daud Allah telah mengasihi pemuda itu karena kasih sayangmu padanya dan menyuruhnya menikah. Maka Allah memanjangkan umurnya sampai tiga puluh tahun lagi," Jelas Izrail.

Nach, subhanalloh kan? Begitu sayangnya seorang nabi pada sahabat-sahabatnya, dan begitu maha kasih sayangNya Alloh kepada hamba-hambaNya, teringat sebuah hadits man laa yar ham laa yurham,,(siapa yang tidak penyayang tidak akan disayangi)...

Jadi sudahkah kita menyayangi saudara/i kita dengan sebaik-baiknya kasih sayang??
Meskipun kata sebuah lagu" kasih manusia sering bermusim, sayang manusia tiada abadi", namun apa salahnya jika kita selalu menanamkan sifat dan sikap kasih dan sayang untuk saudara/i kita...ya khan!! hem.. :)

Minggu, 06 September 2009

Sayyidatina FATHIMAH R.Ha..

Entah kenapa, hari ini aku mudah sekali kesell..kesselll...terlebih setelah kubaca beberapa sms yang salah alokasi,yang otomatis merubah semua laporan yang telah kubuat, dan sms2 dari sahabat2ku yang bikin riweuh aja, ada yang minta tolong jadi juri, ada yang pengen minjem kemeja, ada juga yang nanya2 ini dan itu, semuanya membuatku rieettt.. fluku yang gak beres2, dari hari jum'at ya rob..hidungku ampe megar2..badanku panas terus..bersin2..dan lain2..rasanya lengkap sudah.

Tapi kekeselan itu hanya cukup dihati saja,(maklum takut batal,kan lagi shaum), kuambilah air wudlu, shalat dzuhur dan tilawah beberapa halaman,,suasana tenang kembali kurasakan,,memang benar ternyata "hanya dengan mengingat Alloh hati akan menjadi tenang"..ya..robb..ampuni aku hari ini, ats kekesalanku yang meski itu hanya dalam hati..setelah aku kembali di batas normal :), kusadari bahwa semua yang membuatku kesel bisa menjadi ladang amal hari ini, kumulai lah semua, kucoba perbaiki laporanku dan kucoba membalas sms2 sahabat2ku...

Seketika aku merasa ada yang kurang, perlahan ku buka komputerku, ada beberapa kisah yang ust kirimkan padaku,akhirnya jemariku mulai bergerak kembali, terdorong tuk menulis kisah seorang sayyidah Fathimah Az Zahra, putri kesayangan Rosulullah..yang begitu luar biasa akhlaqnya,sudah sepatutnya menjadi tauladan kita semua...

Sayyidatina Fathimah R.Ha

Dia besar dalam suasana kesusahan. Ibundanya pergi ketika usianya terlalu muda dan masih memerlukan kasih sayang seorang ibu. Sejak itu, dialah yang mengambil alih tugas mengurus rumahtangga seperti memasak, mencuci dan menguruskan keperluan ayahandanya.
Di balik kesibukan itu, dia juga adalah seorang yang paling kuat beribadah. Keletihan yang ditanggung akibat seharian bekerja menggantikan tugas ibunya yang telah pergi itu, tidak pula menghalang Sayidatina Fatimah daripada bermunajah dan beribadah kepada Allah S.W.T. Malam- malam yang dilalui, diisi dengan tahajud, zikir dan siangnya pula dengan sholat, puasa, membaca Al Quran dan lain-lain. Setiap hari, suara halusnya mengalunkan irama Al Quran.

Di waktu umurnya mencapai 18 tahun, Siti Fathimah dinikahkan dengan pemuda yang sangat miskin hidupnya. Bahkan karena kemiskinan itu, untuk membayar mas kawin pun suaminya tidak mampu lalu dibantu oleh Rasulullah S.A.W.

Setelah berkawin kehidupannya berjalan dalam suasana yang amat sederhana, gigih dan penuh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Digelari Singa Allah, suaminya Sayidina Ali merupakan orang kepercayaan Rasulullah SAW yang diamanahkan untuk berada di barisan depan dalam tentera Islam. Maka dari itu, seringlah Sayidatina Fatimah ditinggalkan oleh suaminya yang pergi berperang untuk berbulan-bulan lamanya. Namun dia tetap ridho dengan suaminya. Isteri mana yang tidak mengharapkan belaian mesra daripada seorang suami. Namun bagi Sayidatina Fatimah r.ha, saat-saat berjauhan dengan suami adalah satu kesempatan berdampingan dengan Allah S.W.T untuk mencari kasih-Nya, melalui ibadah-ibadah yang dibangunkan.

Sepanjang pemergian Sayidina Ali itu, hanya anak-anak yang masih kecil menjadi temannya. Nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya Hassan, Hussin, Muhsin, Zainab dan Umi Kalsum diusahakan sendiri. Untuk mendapatkan air, berjalanlah dia sejauh hampir dua batu dan mengambilnya dari sumur yang 40 hasta dalamnya, di tengah teriknya matahari padang pasir.

Kadangkala dia lapar sepanjang hari. Sering dia berpuasa dan tubuhnya sangat kurus hingga menampakkan tulang di dadanya. Pernah suatu hari, ketika dia sedang tekun bekerja di sisi batu pengisar gandum, Rasulullah datang berkunjung ke rumahnya. Sayidatina Fatimah yang amat keletihan ketika itu lalu meceritakan kesusahan hidupnya itu kepada Rasulullah S.A.W. Betapa dirinya sangat letih bekerja, mengangkat air, memasak serta merawat anak-anak. Dia berharap agar Rasulullah dapat menyampaikan kepada Sayidina Ali,kalau mungkin boleh disediakan untuknya seorang pembantu rumah. Rasulullah saw merasa terharu terhadap penanggungan anaknya itu.

Namun baginda amat tahu, sesungguhnya Allah memang menghendaki kesusahan bagi hamba-Nya sewaktu di dunia untuk membeli kesenangan di akhirat. Mereka yang rela bersusah payah dengan ujian di dunia demi mengharapkan keridhoan-Nya, mereka inilah yang mendapat tempat di sisi-Nya. Lalu dibujuknya Fatimah r.ha sambil memberikan harapan dengan janji-janji Allah. Baginda mengajarkan zikir, tahmid dan takbir yang apabila diamalkan, segala penanggungan dan bebanan hidup akan terasa ringan.

Ketaatannya kepada Sayidina Ali menyebabkan Allah S.W.T mengangkat derajatnya. Sayidatina Fatimah tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarga mereka. Tidak juga dia meminta-minta hingga menyusah-nyusahkan suaminya. Subhanalloh...
Dalam pada itu, kemiskinan tidak menghilang Sayidatina Fatimah untuk selalu bersedekah. Dia tidak sanggup untuk kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Dia tidak rela hidup senang dikala orang lain menderita. Bahkan dia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa memberikan sesuatu meskipun dirinya sendiri sering kelaparan. Memang cocok sekali pasangan Sayidina Ali ini karena Sayidina Ali sendiri lantaran kemurahan hatinya sehingga digelar sebagai 'Bapa bagi janda dan anak yatim di Madinah.

Namun, pernah suatu hari, Sayidatina Fatimah telah menyebabkan Sayidina Ali tersentuh hati dengan kata-katanya. Menyadari kesalahannya, Sayidatina Fatimah segera meminta maaf berulang-ulang kali.

Ketika dilihatnya raut muka suaminya tidak juga berubah, lalu dengan berlari-lari bersama anaknya mengelilingi Sayidina Ali. Tujuh puluh kali dia 'tawaf' sambil merayu-rayu memohon dimaafkan. Melihatkan aksi Sayidatina Fatimah itu, tersenyumlah Sayidina Ali lantas memaafkan isterinya itu.

"Wahai Fatimah, kalaulah dikala itu engkau mati sedang Ali tidak memaafkanmu, niscaya aku tidak akan menyembahyangkan jenazahmu," Rasulullah SAW memberi nasehat kepada puterinya itu ketika masalah itu sampai ke telinga baginda.
Begitu tinggi kedudukan seorang suami yang ditetapkan Allah S.W.T sebagai pemimpin bagi seorang isteri. Betapa seorang isteri itu perlu berhati-hati dan sopan di saat berhadapan dengan suami. Apa yang dilakukan Sayidatina Fatimah itu bukanlah disengaja. bukan juga dia membentak - bentak, marah-marah, meninggikan suara, bermasam muka, atau lain-lain yang menyusahkan Sayidina Ali k.w. meskipun demikian Rasulullah SAW berkata begitu terhadap Fatimah.

Ketika perang Uhud, Sayidatina Fatimah ikut merawat luka Rasulullah. Dia juga turut bersama Rasulullah semasa peristiwa penawanan Kota Makkah dan ketika ayahandanya mengerjakan 'Haji Wada' pada akhir tahun 11 Hijrah. Dalam perjalanan haji terakhir ini Rasulullah SAW telah jatuh sakit. Sayidatina Fatimah tetap di sisi ayahandanya. Ketika itu Rasulullah membisikkan sesuatu ke telinga Fatimah r.ha membuatnya menangis, kemudian Nabi SAW membisikkan sesuatu lagi yang membuatnya tersenyum.

Dia menangis karena ayahandanya telah membisikkan kepadanya berita kematian baginda. Namun, sewaktu ayahandanya menyatakan bahwa dialah orang pertama yang akan berkumpul dengan baginda di alam baqa', gembiralah hatinya. Sayidatina Fatimah meninggal dunia enam bulan setelah kewafatan Nabi SAW, dalam usia 28 tahun dan dimakamkan di Perkuburan Baqi', Madinah.

Demikianlah wanita utama, agung dan namanya harum tercatat dalam al-Quran, disusahkan hidupnya oleh Allah S.W.T. Sengaja dibuat begitu oleh Allah kerana Dia tahu bahawa dengan kesusahan itu, hamba-Nya akan lebih hampir kepada-Nya. Begitulah juga dengan kehidupan wanita-wanita agung yang lain. Mereka tidak sempat berlaku sombong serta membangga diri atau bersenang-senang. Sebaliknya, dengan kesusahan-kesusahan itulah mereka dididik oleh Allah untuk senantiasa merasa sabar, ridho, takut dengan dosa, tawadhuk (merendahkan diri), tawakkal dan lain-lain.

Subhanalloh...

Seketika jiwaku terdiam,tergores hatiku oleh kisah mempesona itu,ku ulangi kata-kataku,Ya Robb ...ampuni aku hari ini yang kadang merasa kesal dengan ujian yang engkau anugrahkan, padahal jika kusadari dan kuyakini ini semua akan menjadi ladang kebaikan bahkan mungkin bisa menjadi terangkatnya sebuah kemuliaan...terimakasih ya alloh ats semua karuniakan kepada kami semua...

Astagfirullahal 'adzim...